Menu Utama

Pembayaran

Bank Mandiri Cabang Universitas Airlangga Surabaya
No 1410009833567
a/n Mochamad Soebecha
PEMBAYARAN PAYPALL

Testimoni Pelanggan
- Ternyata Habbatussauda Meningkatkan Vitalitas dan Mencegah Ejakulasi Dini
- Minum Azzam, Haid 2 Tahun Yang Berhenti Lancar Kembali
- Minum Habbatussauda Darah Saat Bekam Menjadi Lancar
- Batu Ginjal Sembuh Berkat Azzam
- Sudah enak untuk sujud saat sholat
- Anak saya tidak mudah batuk berkat Azzam
- Infeksi paru-paru sembuh berkat Azzam
- BAB Lancar Berkat Azzam
- Nafsu Makan Bertambah Berkat Azzam
- Azzam Habbatussauda bisa dijadikan obat luka
Jam Layanan
Senin s/d Jum'at
Jam 8.30 s/d 16.00
Sabtu :
Jam 8.30 s/d 14.00
Minggu & hari Besar : LIBUR
PEMBELIAN ONLINE BUKA SELAMA 24 JAM SEHARI 7 HARI SE MINGGU
Pengiriman kami lakukan jam 9.00 s/d 14.00 Setiap Hari.
Pembelian yang melebihi jam tersebut akan kami kirim pada hari beikut nya.
Who's Online
Anemia Selagi Hamil
Umumnya, wanita lebih mudah mengalami anemia bila dibandingkan dengan laki-laki, karena wanita mengalami perdarahan sewaktu haid atau mengkonsumsi makanan yang kurang mengandung zat besi. Itulah sebabnya ibu hamil menjadi semakin mudah mengalami anemia, mengingat pada saat ini kebutuhan zat besi meningkat untuk pembentukan sel darah merah.
Masalah anemia pada kehamilan sesungguhnya tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi mengingat kurang lebih 70% ibu hamil di Indonesia mengalami gangguan ini. Karena itu, upaya pencegahan anemia sangatlah penting artinya demi kualitas ibu dan janin yang bakal dilahirkan.
Apakah anemia itu?
Pada dasarnya, anemia dapat diartikan sebagai berkurangnya sel-sel darah merah dalam darah. Seseorang dikatakan anemia jika kadar hemoglobin (sel darah merah) dalam darahnya kurang dari 12 g/100 ml. Dalam istilah sehari-hari, anemia sering disebut sebagai penyakit kurang darah atau gangguan komposisi darah dalam tubuh.
Dalam sel darah merah terdapat hemoglobin yang sebagian besar isinya adalah zat besi. Hemoglobin inilah yang berfungsi sebagai alat transportasi oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Jika hemoglobin penuh dengan oksigen, seperti dalam pembuluh darah halus, maka warna darah pun menjadi merah segar. Jika jumlah oksigen di hemoglobin sudah berkurang, seperti pada pembuluh darah balik, maka warna merah darahpun akan berubah menjadi gelap.
Berat ringannya anemia pada ibu hamil dapat dilihat dari kadar hemoglobinnya.
- Anemia berat bila kadar hemoglobin kurang dari 6 g/100 ml
- Anemia sedang bila kadar hemoglobin antara 6-8g/100ml
- Anemia ringan bila kadar hemoglobinnya antara 9-11 g/100 ml
Anemia pada kehamilan
Pada ibu hamil, meningkatnya jumlah darah selama masa kehamilan menyebabkan jumlah zat besi yang dibutuhkan untuk memproduksi sel-sel darah merah pun secara bertahap meningkat. Oleh karena itu, ibu hamil baru dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya kurang dari 11 g/100 ml. Umumnya, yang menjadi masalah adalah produksi zat besi ibu hamil yang tidak selalu seimbang. Tetapi, kekurangan zat besi dalam darah biasanya mudah diperbaiki, antara lain dengan memberikan makanan bergizi serta mengkonsumsi pil vitamin tambahan yang mengandung zat besi. Karena itu, pada kunjungan pertama sewaktu hamil, sebaiknya dilakukan tes darah untuk mengetahui ada tidaknya anemia.
Sejak mudigah berhasil membenamkan diri ke dalam lapisan rahim dan tumbuh serta berkembang di sana, volume darah dalam tubuh si ibu secara berangsur akan meningkat atau bertambah banyak. Pertambahan volume darah itu dimulai sejak kehamilan berusia 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam usia kehamilan 32-36 minggu. Namun, bertambahnya volume darah menyebabkan jumlah plasma darah (bagian cair darah yang tidak mengandung sel-sel darah) menjadi jauh lebih banyak dibandingkan sel-sel darah. Akibatnya, darah menjadi encer. Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya anemia.
Meskipun akibat anemia pada ibu hamil bisa serius, tetapi tanda-tandanya tidak selalu dapat dirasakan. Sebab, bila anemia yang diderita itu ringan, gejalanya tidak akan tampak. Setelah anemia itu bertambah berat, barulah penderita akan terlihat pucat, selain juga mudah merasa lelah, lemah, denyut nadi lemah, sesak napas, dan mungkin bisa pingsan.
Jika makanan yang dikonsumsi ibu hamil seimbang, maka kekurangan zat besi akan segera teratasi. Tetapi kehamilan pada minggu ke-20, ketika kebutuhan darah semakin banyak dan janin pun semakin berkembang, maka kebutuhan zat besi juga semakin meningkat. Dalam keadaan seperti ini anemia karena kekurangan zat besi akan mulai tampak lagi.
Anemia yang dialami seorang ibu pada waktu hamil akan mempengaruhi kehamilannya, persalinan, masa nifas atau masa-masa selanjutnya. Akibat yang ditimbulkannya antara lain keguguran pada awal kehamilan, melahirkan lebih cepat dari waktunya, proses melahirkan berlangsung lama, perdarahan dalam persalinan, si ibu mengalami syok, kemungkinan mengalami infeksi setelah persalinan dan sebagainya. Selain berpengaruh pada ibu, anemia juga dapat berdampak buruk bagi janin. Misalnya cacat bawaan, cadangan zat besi dalam tubuh janin kurang, janin meninggal dalam awal perkembangannya, bayi meninggal sesaat setelah dilahirkan, atau bayi lahir dini.
Berbagai penyebab anemia
Dilihat dari penyebabnya, anemia dapat dibagi dalam beberapa jenis.
- Kekurangan zat besi
Anemia ini akibat kekurangan besi karena si ibu kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi, atau karena terjadi gangguan penyerapan, gangguan penggunaan akibat terlalu banyak zat besi yang keluar dari tubuh seperti perdarahan atau berkeringat. Anemia jenis ini yang paling dijumpai dalam kehamilan. Khususnya pada trimester ketiga kehamilan, kebutuhan akan zat besi juga semakin meningkat. jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan mudah terjadi anemia yang disebabkan oleh kurangnya zat besi. - Anemia hipoplastik
Yaitu anemia pada ibu hamil yang disebabkan sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel baru. Salah satu cirinya adalah, anemia iru akan terlihat, sekalipun sudah diobati dengan segala macam obat penambah darah. Penyebab anemia hipoplastik pada kehamilan bisa karena sinar rontgen, racun atau obat-obatan. Itu sebabnya, ibu hamil dianjurkan tidak menggunakan obat-obatan tanpa izin atau sepengetahuan dokter. Kalau keadaannya sangat berat, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan transfusi darah, yang bisa dilakukan berulang kali. Anemia ini akan hilang dengan sendirinya bila si ibu melahirkan bayinya. - Anemi hemolitik
Anemia jenis ini juga bisa dialami oleh ibu hamil. Anemia ini disebabkan oleh penghancuran sel darag merah yang berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Bila ibu hamil menderita anemia ini, anemia yang dideritanya akan menjadi lebih berat. Anemia jenis ini sangat jarang ditemui pada wanita Indonesia. Untuk meringankan penderitaan ibu dan mencegah agar janin tidak kekurangan oksigen dapat dilakukan transfusi darah. - Anemia megaloblastik
Terjadi karena kekurangan asam folat. Keadaan ini juga akibat kekurangan zat besi yang berasal dari makanan. Kalau keadaan ini terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan, untuk mengatasinya, kemungkinan besar si ibu akan mendapatkan transfusi darah. Pada umumnya, masalah ini akan hilang dengan sendirinya setelah si ibu melahirkan karena kebutuhan asam folat juga semakin berkurang.
Bagi mereka yang sebelum hamil sudah menderita anemia, konsultasi pada dokter pada awal kehamilan sangatlah penting. Kemungkinan dokter akan memberi vitamin zat besi tambahan. Tindakan pencegahan lainnya adalah dengan mengkonsumsi makanan yang seimbang. Beberapa bahan makanan yang mengandung zat besi adalah hati ayam, tahu, tempe, kangkung dan bayam. Usahakan agar selalu mengkonsumsi jenis makanan tersebut selama hamil.
Namun, tidak semua jenis anemia dapat diatasi dengan cara seperti itu. Pada kasus ibu hamil yang menderita anemia hemolitik, pengobatannya dilakukan dengan transfusi darah. Sedangkan pada ibu hamil yang menderita anemia karena infeksi, pengobatan dilakukan dengan menanggulangi penyakitnya terlebih dahulu baru memperbaiki anemianya. Misalnya saja, ibu hamil yang menderita tuberkulosis (TBC) akan diberi antibiotik dahulu baru diberi zat besi tambahan untuk mengobati anemianya. Pengobatan ini tentu harus dalam pengawasan dokter.
Oleh: dr. Lastiko Bramantyo, DSOG/Majalah Ayah Bunda





